23 Juli 2009

Dilematika Pacaran Jarak Jauh

Oleh : Johan Purnomo

Taukah Anda?

“Pacaran jarak jauh biasanya tidak langgeng”. Itulah mindset yang
terbangun di benak kaum muda dalam mengikat komitmen untuk saling
menyayangi dan mencintai yang biasa kita kenal dengan istilah
pacaran. Namun apakah hal tersebut dapat dijadikan sebagai patokan
dalam menjalin sebuah hubungan?

Pacaran, di dalam kamus yang penulis gunakan
(Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta, Balai Pustaka,
2002), kata itu sendiri tidak ada. Namun, menurut hemat penulis, kata
tersebut dapat dipadankan dengan sebuah hubungan saling memberi dan
menerima kasih sayang yang pada substansinya adalah proses pengenalan
diri dari masing-masing kedua belah pihak. Dan komunikasi adalah
sarana paling efektif dalam proses pengenalan tersebut.

Pacaran jarak jauh (long distance) ternyata
dinilai kurang untuk mengakomodir sebuah kebutuhan komunikasi antara
para pihak, sebuah ikatan emosional lebih kita rasakan ketika kita
bertatap muka secara langsung, tersenyum dan menyapa sebagai awal
dalam komunikasi. Dalam pacaran jarak jauh, kebutuhan tersebut
biasanya digantikan oleh sebuah perantara mesin, baik HP, internet
atau alat elektronik lainnya. Sebenarnya itulah salah satu faktor
penyebab adanya selingkuh dalam berpacaran, karena pada hakekatnya
seseorang membutuhkan sebuah interaksi emosional secara langsung yang
ditujukan kepadanya yang tidak dapat digantikan oleh apapun.

Dan akibat tidak adanya sebuah interaksi emosional
secara langsung, banyak kasus membuktikan bahwa pacaran jarak jauh
tersebut ternyata tidaklah membawa ketentraman bagi kedua belah
pihak, rasa cemas, rasa curiga, rasa kangen berlebihan seringkali
menghinggapi perasaan kedua belah pihak, sehingga dapat menimbulkan
efek negatif dalam perilaku yaitu pecahnya konsentrasi dalam
melakukan suatu kegiatan baik dalam belajar, bekerja, maupun dalam
berinteraksi sosial dengan menusia lain. Hal tersebut juga salah satu
faktor pemicu pertengkaran yang dapat menghancurkan komitmen yang
selama ini dibangun.

Diakui atau tidak dalam tataran teknis banyak
ditemui kendala yang dapat menjadi sebab putusnya sebuah hubungan
pacaran jarak jauh. Namun hal tersebut tidaklah bersifat mutlak,
apabila para pihak mengadakan komunikasi secara langsung yang
dilakukan secara rutin, adanya rasa saling percaya dan siap
menghadapi segala konsekuensinya, dari pernyataan tersebut diatas
dapat diajukan sebuah pertanyaan, siapkah anda menerima konsekuensi
dari sebuah hubungan pacaran jarak jauh? Pertanyaan tersebut hanya
dapat dijawab oleh diri anda sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar